Kamis, 04 Februari 2010

TEMPLATES BLOG HANCUR

0 komentar
Para pengunjung Blog BM yang budiman, mohon maaf karena tampilan blog ini mengalami kerusakan. Elemen sidebar pada bagian kanan turun menyatu dengan kolom postingan dibagian bawah. Sudah berusaha diperbaiki tapi masih tetap rusak. Jadi templatesnya dikembalikan pada templates klasik. Apabila ada teman-teman yang bisa bantuin, mohon disampaikan pada komentar diposting ini.

Selasa, 09 Juni 2009

0 komentar
PRES RELEASE

BRIGADE MANGUNI KALIMANTAN


I YAYAT U SANTI........!!!

Sehubungan dengan kembali mencuatnya persoalan Ambalat, karena manuver Malaysia, maka BRIGADE MANGUNI INDONESIA Wilayah Kalimantan bersama KOMANDO PERTAHANAN ADAT DAYAK KALIMANTAN menyampaikan pernyataan sikap :


1. Bahwa bertitik tolak pada kesepakatan bilateral tentang pembagian perbatasan wilayah NKRI yang ditandatangani (oleh kedua belah pihak, bukan secara sepihak oleh Malaysia), maka telah disepakati bahwa Ambalat masuk kedalam wilayah NKRI, maka sehubungan dengan hal tersebut apapun alasannya Ambalat adalah bagian integral yang tidak terpisahkan dan tdak mungkin terpisahkan dari wilayah kedaulatan NKRI;

2. Bahwa karena Ambalat merupakan kedaulatan NKRI, maka berbagai bentuk upaya provokasi yang dilakukan oleh Malaysia atau Negara manapun, HARUS DILAWAN DAN DITUMPAS sampai keakar-akarnya;

3. Bahwa sebagai bangsa yang berdaulat dan bermartabat dalam pergaulan internasional, memang wajib bagi kita untuk mengedepankan upaya diplomatic, untuk menyelesaikan melalui jalur diskusi secara elegan, tetapi sebaiknya kita perlu menegakkan pemahaman yang sama diantara Malaysia dan Indonesia, bahwa Ambalat adalah milik NKRI dan bukan milik siapapun juga, sehingga masuk kedalam wilayah NKRI tanpa “permisi” adalah bentuk terhadap pelanggaran kedaulatan suatu Negara (NKRI), jadi ketika upaya diplomatic terus mebrjalan, tetapi ternyata Malaysia secara sepihak telah terus menerus memprovokasi kita dengan berulang kali memasuki wilayah NKRI dengan kapal perang dan pesawatnya maka seharusnya hal ini ditindak lanjuti bukan saja dengan cara diplomatic tetapi peringatan keras bahwa kalau mereka (Malaysia) melakukan hal itu lagi dan TNI menyatakan Perang, maka kami Pasukan Adat Bela Negara BRIGADE MANGUNI INDONESIA Wilayah Kalimantan bersama KOMANDO PERTAHANAN ADAT DAYAK KALIMANTAN siap menjadi Relawan Membantu TNI untuk BERPERANG;

4. Bahwa dalam konteks itu, BRIGADE MANGUNI Wilayah Kalimantan menyatakan siap PERANG melawan Malaysia ketika mereka mencoba untuk mengganggu apalagi mengambil wilayah Ambalat. Segala upaya Malaysia untuk mengclaim Ambalat adalah miliknya, harus kita lawan, harus kita “perangi” sampai tuntas demi tegaknya NKRI, karena bagi kami sepenggal wilayah NKRI yang berada diujung bumi sekalipun adalah “warisan” dari Tuhan untuk anak cucu manusia Indonesia, dan karenanya kami siap untuk mempertahankannya hingga titik darah penghabisan;

5. Bahwa dengan hal yang sama, pada bulan Maret Tahun 2005, dihadiri oleh ribuan Pasukan Adat Bela Negara BRIGADE MANGUNI INDONESIA bersama KOMANDO PERTAHANAN ADAT DAYAK KALIMANTAN juga telah melakukan apel akbar di Lapangan Sparta Tikala Manado untuk menyatakan kebulatan tekad mempertahankan sampai titk darah penghabisan setiap jengkal tanah NKRI dari ancaman pihak Malaysia;

Mari menjadi bangsa yang bermartabat sekaligus dihormati oleh bangsa-bangsa lain karena kita NKRI memiliki berbagai kekuatan dari Tuhan Yang Maha Kuasa (Opo Empung Wailan Wangko) dan kemampuan phisik serta pikiran manusia Indonesia, sebagai bangsa yang besar sebagai bangsa yang kuat, untuk mempertahan wilayah NKRI dan membalas “serangan” pihak asing atas wilayah NKRI.


Merdeka …!!!


SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA….SELAMA HAYAT MASIH DIKANDUNG BADAN, KITA TETAP SETIA, TETAP SETIA, MEMPERTAHANKAN INDONESIA, KITA TETAP SETIA, TETAP SETIA, MEMBELA NEGARA KITA”


I YAYAT U SANTI………!!!


BRIGADE MANGUNI WILAYAH KALIMANTAN:

AP. FARRY A. MALONDA (TONAAS BM BORNEO )

WURI SUMAMPOUW, SH ( SEK-JEN BM KALIMANTAN )


KOMANDO PERTAHANAN ADAT DAYAK KALTIM:

YULIANUS HENOQ SUMUAL SH, Sth. (PANGLIMA)

AIKUL PALIT SH. (SEKRETARIS)


Senin, 25 Mei 2009

FRONT PEMBELA ISLAM KOTA BITUNG DILANTIK VIA PONSEL

0 komentar
Pernyataan Sikap seluruh Ormas Adat Kota Bitung dengan Menolak kehadiran Front Pembela Islam di Kota Bitung yang dibacakan dalam Apel Adat pada tanggal 23 Mei 2009 tidak dihiraukan oleh Ormas FPI. Pada hari dan tanggal yang sama ternyata Pengurus Front Pembela Islam Kota Bitung telah dilantik oleh Pengurus FPI pusat melalui Ponsel.
Pelantikan Pengurus Front Pembela Islam (FPI) kota Bitung dibenarkan oleh Juru Bicara FPI Kota Bitung, Rio E. Turipno. Dikatakan Rio E. Turipno, pelantikan Pengurus FPI Kota Bitung dilaksanakan di Mesjid Agung Nurul Huda dan yang melantik adalah KH Ahmad Shabari Lubis Sekjen FPI Pusat serta difasilitasi DPD FPI Propinsi Sulut.
Menurut Rio, Jubir FPI Kota Bitung "Apapun yang terjadi, pelantikan ini harus dilakukan. Sekjen FPI juga mengatakan apabila ini dipermasalahkan Kepolisian dan Pemerintah setempat, silakan menuntut DPP FPI Pusat".
Pelantikan FPI Kota Bitung menurut Rio, dihadiri Wakil Ketua DPD FPI Propinsi, Ustad Abdul Rahman Laita, Sekretaris DPD FPI Propinsi,Dolfi Paath, dan Ketua Majelis Syuro FPI Propinsi, H Subari M Nur.
Ormas Adat Kota Bitung yang menyatakan menolak kehadiran FPI di Kota Bitung masing-masing : Brigade Manguni, Milisi Waraney, Waraney Esa, Pakasaan, Gemistal, Trisula, Kawatuan Remboken.

Kamis, 21 Mei 2009

ORMAS ADAT DI KOTA BITUNG MENOLAK KEHADIRAN FRONT PEMBELA ISLAM

0 komentar
Brigade Manguni Bitung bersama Ormas Adat yang ada di Kota Bitung akan mengadakan Apel Adat di Lapangan Maesa Bitung pada hari Sabtu, tanggal 23 Mei 2009. Apel Adat bersama seluruh Ormas Adat di Kota Bitung dilaksankan dalam rangka menyikapi persoalan yang terjadi di Kota Bitung. Sebagaimana diketahui, bahwa pada hari Sabtu tanggal 23 Mei 2009, Front Pembela Islam (FPI) akan mengadakan Deklarasi di Kota Bitung. Dalam Apel Adat tersebut akan dibacakan pernyataan sikap seluruh Ormas Adat untuk Menolak Kehadiran Front Pembela Islam (FPI) di Kota Bitung.

Senin, 11 Mei 2009

PERNYATAAN SIKAP BRIGADE MANGUNI KALIMANTAN

0 komentar
PRESS RELEASE

“STOP WACANA MENGGANTI LAMBANG BURUNG MANGUNI DENGAN LAMBANG YANG LAIN”
Mencermati berbagai wacana yang dihembuskan beberapa kalangan, baik dari unsur Legislatif maupun unsur Eksekutif di Kabupaten Minahasa Tenggara, tentang Wacana untuk merubah LAMBANG KABUPATEN MINAHASA TENGGARA, maka dengan ini KOORDINATOR ORMAS ADAT BRIGADE MANGUNI INDONESIA WILAYAH KALIMANTAN menyatakan sikap untuk dijadikan perhatian yang sangat serius sebelum mengambil suatu keputusan.


PERNYATAAN SIKAP tersebut antara lain :
1. Siapapun yang mengambil inisiatif untuk merubah Lambang Kabupaten Minahasa Tenggara supaya kembali berpikir arif dan bijaksana serta berhikmat! Hal ini penting disampaikan, karena apabila wacana ini kemudian dibiarkan dan kemungkinan untuk diwujudkan maka, banyak tinjauan mendasar dari berbagai factor yang WAJIB DIPERHATIKAN KEMBALI, bila tidak maka generasi berikut dari generasi penerus masyarakat Minahasa, khususnya Kabupaten Minahasa Tenggara, akan kehilangan sejarah penting terhadap perkembangan bangsa dan kaumnya sendiri;

2. Mengganti Lambang suatu daerah, adalah suatu hal yang tidak saja bersinggungan dengan kepentingan kelompok tertentu, pemimpin tertentu atau waktu tertentu saja, tetapi berdampak pada berbagai sisi kehidupan manusia. Mari lihat dan pertimbangkan dari Sejarah terbentuknya Minahasa, kemudian dilihat dari factor Filosofis awal ketika menetapkan Lambang itu, kemudian dilihat lagi dari sisi Makna Kaedah Kebiasaan Masyarakat dengan Lambang Manguni itu, kemudian bagaimana dengan Keterikatan Emosional antara Lambang Manguni dengan masyarakat Minahasa pada umumnya, dan masyarakat Minahasa Tenggara pada khususnya, dan itu belum termasuk dengan Nilai Nilai Perjuangan yang dirasakan oleh masyarakat dengan Lambang Manguni itu;

3. Kehawatiran, kegelisahaan dan ketakutan yang sangat mendalam juga dirasakan, bahwa penggantian Lambang itu akan bermuara pada hilangnya budaya leluhur yang sangat dijunjung tinggi oleh generasi Toar dan Lumimuut di Minahasa, dan apa yang akan kita katakana pada anak cucu kita tentang sejarah Minahasa apabila ada bagian penggalan sejarah yang ternyata hilang atau bahkan “sengaja dihilangkan”;

4. Dengan berbagai factor tersebut, KELUARGA BESAR BRIGADE MANGUNI WILAYAH KALIMANTAN beserta seluruh jajaran Pengurus, Anggota dan simpatisannya, MENYERUKAN untuk STOP MELANJUTKAN WACANA PENGGANTIAN LAMBANG BURUNG MANGUNI DALAM LOGO KABUPATEN MINAHASA TENGGARA.

5. Ada banyak cara untuk berbuat yang terbaik bagi bangsa dan kaum di bumi Minahasa Tenggara, tetapi pasti BUKAN DENGAN MENGGANTI LAMBANG BURUNG MANGUNINYA.

6. Kami juga adalah generasi penerus pemilik adat dan budaya Minahasa, kalau kami saja yang dirantau TERUS MEMLIHARA, MELESTARIKAN dan begitu bangga pada berbagai adat istiadat, symbol-simbol Minahasa, maka seharusnya para pengambil kebijakan di Minahasa Tenggara harusnya memiliki “rasa yang lebih” untuk terus menjaga kelangsungan dan lestarinya, adat istiadat serta symbol symbol masyarakat Minahasa, khususnya Minahasa Tenggara, kini dan selamanya!

I YAYAT U SANTI……………………..

KOORDINATOR WILAYAH

BRIGADE MANGUNI

KALIMANTAN

TONAAS BORNEO - SEKRETARIS

Ttd

AP. FARRY A. MALONDA. WURI SUMAMPOUW, SH

Selasa, 28 April 2009

TONAAS WANGKO BRIGADE MANGUNI DECKY MAENGKOM ANCAM USIR TELLY TJANGGULUNG DARI MITRA

0 komentar
Pemkab Kabupaten MITRA Berencana Rubah Lambang Kabupaten.

Organisasi adat Brigade Manguni (BM) Minahasa Tenggara (Mitra), berencana akan melakukan demo besar-besaran jika Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mitra tetap pada pendiriannya untuk merubah lambang daerah Kabupaten Mitra yang telah ada.
Hal ini seperti dikatakan Tonaas Wangko BM, Decky Maengkom beberapa hari yang lalu, rencana pemerintah untuk merubah lambang Kabupaten Mitra merupakan bentuk perlawanan kepada warga Mitra itu sendiri. Sebab lambang daerah yang ada saat ini, sudah merupakan lambang yang mengambarkan budaya asli masyarakat Mitra. Sehingga tidak ada alasan bagi pemerintah, untuk melakukan perubahan lambang kabupaten. “Kami akan melakukan demo besar-besaran, dengan menghadirkan massa yang cukup banyak untuk menolak rencana tersebut, bahkan kami akan mendesak agar Bupati Mitra, Telly Tjanggulung (T2) segera membatalkan niat tersebut,” tegas Maengkom. Dikatakannya, DPRD Mitra jangan membahas usulan yang telah dilayangkan oleh pemerintah sebab lambang kabupaten yang baru tersebut sama sekali tidak mencerminkan ciri khas kehidupan warga dan lebih pada soal kepentingan. Itu dikarenakan, Bupati T2 adalah warga etnis Thionghoa (Cina) dan bukan penduduk asli Mitra. Dan kalau perlu, kami atas nama warga akan mendesak agar Tjanggulung untuk segera angkat kaki dari tanah Patokan Esa. “ Kami tidak main-main dengan hal ini, makanya kami tetap mendesak pemerintah dan dewan terhormat untuk membatalkan niat ini, dan jangan sampai kami bertindak yang lebih parah lagi yaitu mengusir Bupati dari negeri kami Patokan Esa,”ancam Maengkom yang terkenal vokal tersebut. Secara terpisah, Kabag Tata Pemerintah Sekdakab Mitra, Yotje Wawointana menegaskan, usulan perubahan lambang kabupaten Mitra sudah di sampaikan ke dewan yang terhormat. Jadi tinggal menunggu jadwal pembahasan, dan memang untuk lambang kabupaten yang baru sangat berbeda dengan yang lama, bahkan di rubah seratus persen. “Pemerintah telah menyampaikan usulan kepada pimpinan dewan, tinggal menunggu waktu atau jadwal dari dewan, sedangkn untuk lambang sendiri mengalami perubahan total,” kata Wawointana polos.
(sumber Koran Manado)

Sabtu, 25 April 2009

BURUNG MANGUNI

0 komentar
Ditugaskan Jaga Keturunan Toar-Lumimuut
Mitos Burung Manguni Laporan Tenni Assa BAGI rakyat Minahasa burung Manguni atau juga dikenal sebagai burung hantu, tidak sekadar burung kebanyakan. Burung Manguni diyakini sebagai burung istimewa yang juga mempunyai tugas khusus dalam menjaga keselataman umat manusia. Tak heran jika Kabupaten Minahasa juga daerah-daerah pemekaran dari Kabupaten Minahasa masih tetap menggunakan burung Manguni dalam logo daerahnya. Chep Ngangi dalam tulisannya berjudul Tugas Burung Manguni dan Opo-Opo seperti dikutip dalam www.Kearifanlokal.blogspot.com menyebutkan, burung Manguni adalah salah satu ciptaan oleh Roh atau Opo paling atas yang menguasai langit dan bumi. Oleh ‘Opo Empung Wananatas’ tersebut menugaskan kepada burung Manguni (mauni : mengamati) untuk menjaga keselamatan anak-cucu Toar-Lumimuut, berjaga-jaga pada malam hari, tidak boleh tidur dan diberi kemampuan bunyi siul berbeda untuk signal aman atau bahaya. Burung Manguni yang dinamakan ‘Hoot’ (Jawa: burung hantu), bentuknya sebesar burung Kakatua, berbulu hitam keabu-abuan, matanya bulat membelalak menghadap ke depan, ada pula jenis kecil ‘Tootosik’ dinamakan sesuai bunyi siulannya. Pada saat “bertugas” mereka bertengger membelakangi arah datangnya berita, apa bila pertanda baik siulannya syahdu dan apabila ada bahaya suaranya tergesa-gesa lemah seakan berbisik. Pertanda akan ada kemenangan mutlak bila ‘hoot’nya nyaring mengalun dan dilakukan berturut 3 kali 9 (‘telu makasiou’). Atas dasar pemikiran ini maka Jan Timbuleng (sekampung dengan Penulis, Walian) menamakan pasukan Permestanya ‘Brigade 999’ atau Triple Nine. Masih ada jenis burung malam “Ki’ek” yang sambil terbang menyambar rendah dengan suara melengking (satu kali saja) selalu membawa berita ‘awas bahaya sudah dekat’. Ada lagi jenis burung Kookokuk yang belum pernah dilihat karena tempatnya jauh dalam hutan, apabila siulan “kookokuk” nya mendekat menandakan bahaya semakin dekat dan bila suara jauh melemah artinya lawan telah menjauh. Pada siang hari lanjut Chep Ngangi ada burung “Menge’ngekek”, sebesar terkukur, bulu coklat, sayap kuning, ekor hitam panjang apabila tetap bertengger dibelukar dengan suara tawa mengejek tanda ‘awas waspada’ dan bila dia terbang rendah memintas di depan dengan suara panjang “nge’ek” berarti sebaiknya berhenti sebentar atau batalkan perjalanan. Kicauan burung ‘Kuoo’ dan ‘Kowkow’ bersahut-sahutan pada pagi hari menandakan suasana gembira dan tenteram, dan yang sekali-sekali diselingi suara ngantuk berat dari burung ‘Mu’kurz’ yang dijuluki roh penjaga hutan yang kesiangan. Dia meyakini burung-burung tersebut belum melupakan tugas yang diberikan oleh Penciptanya, namun kemajuan teknologi komunikasi moderen dan peralatan deteksi mutakhir telah mengambil alih kewajibannya dan mungkin pula burung-burung tersebut tetap memberi pertanda akan peristiwa kekerasan dan bencana yang akan terjadi, tapi karena habitatnya sudah tergusur jauh ke dalam hutan, maka siulan warning-nya sudah tak terjangkau oleh pendengaran manusia.

Narasumber:www.mdopost.com